Ade Klarifikasi Isu Blatung di Menu MBG, Ulat Tak Mungkin Hidup di Suhu di Atas 75°C

Polemik terkait isu blatung MBG kembali mengemuka, khususnya terkait laporan yang menyebutkan adanya ulat dalam menu yang disajikan pada salah satu satuan pendidikan. Dalam konteks ini, Ade Putra Kurniawan, selaku Person in Charge (PIC) Dapur SPPG Lombok Timur Keruak Pijot, memberikan klarifikasi kepada media mengenai isu yang beredar. Ia menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan mengungkapkan langkah-langkah yang diambil untuk menyelidiki situasi tersebut.
Menanggapi Isu Blatung MBG
Pada Rabu malam, 8 April, Ade menjelaskan kepada awak media bahwa berita mengenai menu berulat yang didistribusikan ke sekolah tidaklah benar. Ia menegaskan bahwa pihaknya selalu berkomitmen untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.
Sebuah video yang beredar di grup Asisten Lapangan (Aslap) menunjukkan adanya ulat di dalam ompreng. Segera setelah menerima informasi tersebut, tim Aslap langsung melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan kebenaran dari video tersebut. Namun, saat tiba di sekolah, mereka menemukan bahwa isi ompreng telah dibuang, sehingga mempersulit proses verifikasi.
Prosedur Pelaporan Isu Kualitas
Menurut Ade, terdapat kesepakatan yang jelas antara SPPG dan PIC satuan pendidikan terkait pelaporan masalah kualitas makanan. Apabila ada temuan yang tidak sesuai dalam ompreng, PIC harus segera melaporkannya melalui grup WhatsApp. Selanjutnya, Aslap berkewajiban untuk melakukan penggantian terhadap ompreng yang dilaporkan bermasalah.
“Memang benar kami menerima video mengenai ulat di menu MBG, dan pada hari Senin, 6 April 2026, kami segera turun ke lapangan. Namun, pihak sekolah menyatakan bahwa menu tersebut sudah dibuang sebelumnya,” jelas Ade.
Pertanggungjawaban SPPG
Ade menambahkan bahwa mereka berusaha untuk mengganti ompreng yang dilaporkan bermasalah sebagai bentuk tanggung jawab kepada pihak sekolah. Namun, pihak sekolah menolak tawaran tersebut dan menyatakan bahwa mereka tidak memerlukan penggantian.
“Kami mencari bukti fisik tentang keberadaan ulat di omprengan, namun tidak ada yang ditemukan karena sudah dibuang oleh pihak sekolah. Kami hanya menerima video sebagai bukti, dan meskipun tidak ada ulat yang ditemukan, kami menawarkan penggantian sebagai bentuk komitmen kami,” paparnya.
Standar Kualitas Penyajian
Ade menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan proses penyortiran dan penyajian bahan makanan dengan sangat teliti. Ia menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang tidak logis, terutama mengingat bahwa hanya satu dari 3.287 omprengan yang mengalami masalah.
“Secara ilmiah, ulat tidak mungkin dapat bertahan hidup pada suhu memasak di atas 70°C. Umumnya, ulat akan mati pada suhu antara 40°C hingga 50°C. Oleh karena itu, sangat tidak mungkin ulat itu masih hidup setelah sayuran dimasak,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa semua menu diolah dengan sangat baik dan masih dalam keadaan segar saat disajikan.
Langkah Perbaikan dan Tanggung Jawab Sosial
Meskipun Ade menegaskan bahwa kejadian tersebut berada di luar kendali SPPG, ia menganggap bahwa jika memang terdapat kejadian seperti itu, hal itu harus dijadikan sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan. “Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan SPPG demi generasi emas 2045,” ujarnya.
Ia berharap insiden ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak reputasi dan marwah KA SPPG. Pihaknya ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah untuk kebaikan semua pihak yang terlibat, terutama para siswa.
Penghargaan Terhadap Kontrol Publik
Ade juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang memberikan perhatian terhadap isu ini. Ia menyadari pentingnya pengawasan dari masyarakat dan media sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan kualitas pelayanan. Pihaknya akan terus mencari tahu asal-usul video yang beredar untuk menemukan titik terang mengenai kebenaran informasi tersebut.
- Komitmen untuk menyajikan makanan berkualitas tinggi
- Pentingnya prosedur pelaporan yang jelas
- Investigasi mendalam untuk menanggapi isu yang muncul
- Penghargaan terhadap kontrol publik dan media
- Upaya berkelanjutan untuk perbaikan kualitas layanan
Dalam dunia pendidikan, kualitas makanan yang disajikan kepada siswa adalah hal yang sangat penting. SPPG bertekad untuk terus memperbaiki dan meningkatkan standar makanan yang disajikan, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Ade menekankan bahwa transparansi dan komunikasi yang baik adalah kunci untuk menghadapi isu-isu yang sensitif semacam ini.
Ke depan, Ade mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik, baik di sekolah maupun dalam penyediaan makanan. Dengan kerjasama yang baik, diharapkan isu blatung MBG ini bisa segera teratasi dan tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.